Jumat, 23 Agustus 2019

7 Bulan Hamil Oryza

Juli 2013

Sejak pertama kali mens hingga saat ini, jadwal mens saya selalu teratur. Saat itu saya sakit mual muntah parah, mens keluar sesuai jadwalnya, hanya saja berwarna pink cerah dan cair seperti urin.

Ke dokter umum, dikasih obat, tapi tidak sembuh juga. Penasaran, setelah obat habis, periksa lagi ke dokter penyakit dalam. Di-USG, katanya ada dispepsia dan kurang minum. Dan saya minta dokter periksa bagian rahim juga. Pas alat USG ke perut bagian bawah, ternyata...

"Wah, sudah ada kantong hamil nih. Berarti sudah lewat 4 minggu," kata dokter. "Selamat ya! Silakan ke bidan atau dokter kandungan untuk pemeriksaan lebih lanjut."

😍😍

Bahagia tumpah ruah rasanya. Puji syukur kami panjatkan ke hadirat-Nya. Penantian dan perjuangan panjang selama ini terbayar sudah, kado ulang tahun ke-5 pernikahan kami.

Berikutnya ke bidan, test pack positif.

Teringat pesan Mamah, "Kalau hamil jangan manja, jangan menyusahkan suami" dan pernah baca artikel bahwa ngidam itu tidak ada, hanya budaya.

Hampir 3 bulan mual-muntah parah. Katanya orang hamil muda suka yang asem-asem, saya mah boro-boro. Makan lengkeng yang super manis saja langsung keluar lagi. Ini sih bukan morning sickness, melainkan all day sickness.

Yang ramah di perut cuma coklat dan keju. Eits, ini bukan ngidam ya! Sebelum hamil juga coklat-keju mah biasa makan, cuma kebetulan saja yang bisa diterima perut cuma itu.

Masuk bulan ke-4, makan mulai normal. Alhamdulillah tiap kontrol ke bidan tidak ada masalah sampai minggu ke-30.

Periksa ke DSOG bulan ke-6, hasil USG dikatakan bahwa berat janin sudah 1600 gram, sudah tidak boleh konsumsi susu hamil, harus banyak makan sayur dan buah.

Next: Lahir Prematur karena Ketuban Pecah Duluan

Selasa, 20 Agustus 2019

Lahir Prematur karena Ketuban Pecah Duluan

Jumat, 27 Desember 2013, habis magrib

Ada yang basah-basah di celana, belum curiga apa-apa.

Sabtu, 28 Desember 2013, dini hari

Terbangun karena 'ngompol' banyak bsnget, sampe harus pake pembalut. Cairannya putih kental seperti lendir, tidak amis.

3 klinik DSOG dekat rumah tutup, liburan akhir tahun, tidak ke RSUD karena terkenal dengan pelayanan kurang menyenangkan.

Pergi ke bidan senior, cuma dikasih amoxicilin dan disuruh bed rest di rumah, tanpa mewanti-wanti bahaya pecah ketuban dini (PKD), sejak saat itu, sy benci dg bidan tsb.

Minggu, 29 Desember 2013

Masih bed rest di rumah, air ketuban masih keluar.

Senin, 30 Desember 2013, pagi

Klinik DSOG yang jutek buka. Daftar via telepon, tapi begitu datang langsung bilang ke tempat pendaftaran bahwa ketuban sudah pecah. Tak lama kemudian, dipanggil ke ruang periksa.

Dokter yang biasanya super jutek, berubah lembut dan berhati-hati dalam bicara. Katanya, ada 3 hal:

1. PKD bisa menyebabkan infeksi, akan diberi antibiotik
2. Usia 30 minggu, paru-paru bayi belum berkembang dengan baik, akan diberi obat untuk mematangkan paru-paru bayi, dirawat dua hari
3. Bayi sungsang, posisi kepala di atas, pantat di bawah, kaki selunjur ke atas, posisi badan miring kanan. Masih bisa diakali spy lahir normal.

Jam 14, belum ada mulas, diinfus, disuntik.

Jam 19, diberi obat yg dimasukkan ke vagina. Ada mulas sesekali, belum ada pembukaan.

Selasa, 31 Desember 2013, jam 00

Mulas makin jadi, baru pembukaan dua. Jerit-jerit, teriak-teriak, nangis, marah, menahan sakit seperti mulas saat mens tapi intens banget, tiap menit rasanya.

Jam 6, pembukaan enam.

Jam 9, kata dokter siap-siap tenaganya. Kalau sampai jam 10 masih belum keluar, harus caesar.

Dengan sekuat tenaga, akhirnya tangis nyaring Baby Oryza terdengar. Langsung ditaruh di dada, semantara dokter dan tim membereskan lain-lain.

Alhamdulillah... normal dan sehat, cantik banget. Dengan panjang 40 cm dan berat 2.100 gram, Oryza harus masuk inkubator, bahkan diadzani di situ.

Oryza sudah bisa nenen pertama :)

Jumat, 16 Agustus 2019

Postpartum Hemorrhoid


Saat hamil Fatih susah makan, mual muntah, sembelit lebih parah daripada saat hamil Ory. Setelah melahirkan bahkan ada hemorroid (wasir/ambeien) keluar selama kurang lebih satu bulan, DSOG memberi obat Venosmil (hidrosmin 200mg).  

Berikutnya hemorroid tersebut hanya keluar pada saat BAB saja dan bisa dimasukkan kembali.
Masuk usia 4 bulan, Fatih terkena batuk pilek. Selama hampir seminggu, tiap malam tidur terganggu, rewel melulu. Tengah malam dalam keadaan terngantuk-ngantuk, berkali-kali terbangun menenangkan Fatih, duduk pun sembarangan. Ada hemorroid keluar, kali ini tidak bisa dimasukkan lagi, mengganjal dan terasa sakit.

Chat dengan Gita (sepupu yang jadi perawat), curhat tentang hal ini. Berdasarkan pengalaman Gita, disarankan minum obat:
1.       Mefinal (asam mefenamat)
2.       Cefadroxil
3.       Methylprednisolon

Dan diberi ramuan oleh Bi Aah (ibunya Gita) berikut:
1.       Temulawak 2 buah: dihaluskan dengan juicer (bukan blender), diambil airnya saja
2.       Santan instan 1 buah
3.       Gula aren 1 buah
Dikukus, lalu tiap hari diminum 1 sendok makan pagi dan sore. Rasanya getir, nempel di mulut.

Obat dan ramuan tersebut memang mengurangi sakit, tapi tidak mengecilkan apalagi bisa masuk lagi. 

Sampai seminggu, ada berdarah. Lalu ke dokter umum di klinik 24 jam. 

Ditangani oleh dokter Syarifah, dokter muda yang cantik dan ramah. Dari dokter Syarifah dibekali beberapa obat:
1.       Nexitra (tranexamic acid 500mg) 2x1: untuk menghentikan perdarahan
2.       Lokev (omeprazole 20mg)
3.       Hemorid 2x1
4.       Asimat (asam mefenamat) 2x1: untuk anti nyeri

Biaya Rp. 75.000,-

Menurut dokter Syarifah, penanganan untuk hemorroid yang sudah keluar adalah operasi. Dan, dia merekomendasikan dokter Lukman, SpB. 

Ternyata dokter Lukman hanya praktik pagi. 

Sore itu, saya menyempatkan diri ke RS Khusus Bedah Budi Kasih, disambut oleh asisten dokter bedah di situ. Menurut dia, hemorroid yang sudah keluar harus dioperasi dengan biaya sepuluh juta rupiah (sudah termasuk biaya operasi, rawat inap selama tiga hari dan obat). Harus kontrol lagi 1 minggu dan 2 minggu setelah operasi. Kalau siap biayanya, operasi bisa dilaksanakan hari itu juga, dengan puasa 6 jam sebelumnya. 

Jujur saya syok. Bukan cuma karena harus operasi, tetapi juga menyangkut biaya dadakan yang cukup besar untuk saya dan harus meninggalkan Fatih selama tiga hari. 

Sempat googling beberapa klinik wasir yang katanya bisa operasi dengan laser, hanya 15 menit, bisa langsung pulang, less pain. Hanya saja klinik tersebut semuanya berada di Jakarta dan sekitarnya, tidak ada di Bandung. 

Besoknya saya pergi ke klinik dokter Lukman. Sayangnya sedang tidak ada di tempat, baru ada besoknya lagi. Dari asistennya, didapatkan informasi bahwa hemorroid yang sudah keluar tidak selalu harus operasi. Ada juga yang dikasih obat dan atau salep. 

Mencoba bersabar sambil menahan rasa tidak enak di pantat. Sampai akhirnya bertemu dokter Lukman keesokan harinya. Dokternya belum terlalu sepuh, baik, ramah dan komunikatif. 

Dijelaskan bahwa hemorroid adalah pembengkakan pembuluh vena di anus, bisa terjadi kehamilan, melahirkan, dan atau kurang makan serat serta sering menahan BAB. Hemorroid sendiri terdiri dari ada beberapa grade

Grade 1: ada hemorroid tapi tidak keluar
Grade 2: hemorroid keluar saat BAB tapi bisa masuk sendiri
Grade 3: hemorroid keluar saat BAB, harus dimasukkan lagi, tidak bisa masuk sendiri
Grade 4: hemorroid keluar, tidak bisa dimasukkan lagi

Untuk grade 1 dan 2, masih bisa diobati. Sedangkan grade 3 dan 4 sebaiknya operasi. 

Berhubung sudah mencapai sepuluh hari, dijelaskan bahwa sudah operasi tidak diperlukan lagi urgensinya, karena sudah tidak bengkak, tidak sakit dan akan mengecil sendiri dalam waktu kurang lebih 12 minggu, meninggalkan kelebihan kulit, dan kurang estetik saja (hmmm lagian siapa juga yang mau lihat-lihat ke situ, bahkan suami pun gak akan sengaja memperhatikan J ). 

Untuk pemeriksaan, saya disuruh berbaring berselimut, miring kiri dengan kaki ditekuk, lalu dilihat, dan ternyata memang sudah mulai kempis. 

Cukup diberi obat saja: Hesmin (hesperidin 50mg, diosmin 450mg) 2x1 sebanyak 20 biji. 

Pesan dokter Lukman: banyak makan buah dan sayur, minum air putih, jangan menahan BAB, dan jangan makan cabe karena ada zat dalam cabe yang bisa menyebabkan perdarahan lagi. 

Biaya: Rp. 365.500,- 

Alhamdulillah, lumayan lega rasanya bisa bertemu dokter Lukman yang komunikatif. Semoga ke depannya tidak akan bermasalah lagi. Aamiin...

Pengalaman Berkesan saat Hamil Pertama dan Kedua


Oryza adalah kado ulang tahun pernikahan kami yang kelima. Kebahagiaan membuncah saat tahu aku hamil. Dan kehadiran Fatih merupakan bonus di ulang tahun pernikahan kami yang kesepuluh.

Ada beberapa perbedaan saat hamil Ory dan Fatih: 

Tanda
Hamil Oryza
Hamil Fatih
Awal kehamilan
Pada jadwal mens, keluar pipis warna pink
Pada jadwal mens, tidak ada mens sama sekali
Pemeriksaan awal
Ke dokter umum karena disangka sakit mual-muntah, lalu ke dokter Penyakit Dalam karena gejala tak kunjung sembuh. Di-USG ternyata sudah ada kantong hamil dan titik janin, usia diperkirakan sudah lebih dari satu bulan
Dua kali test pack, hasilnya satu garis merah dan satu garis pink, ragu apakah hamil atau tidak. Lalu ke dokter Iing (DSOG), USG sudah terlihat kantong hamil dan titik janin, usia 5-6 minggu
Perdarahan
Tidak ada
Seminggu setelah periksa pertama, saat pipis kedua kali di pagi hari, keluar darah segar tanpa gumpalan, tidak sakit. Langsung ke DSOG, katanya ada ancaman keguguran, disuruh bed rest, dikasih penguat Allystrenol dan antibiotik Cefixime
Gravidarum
Mual-muntah sejak awal, tapi badan segar, masih bisa pergi-pergi.
Awalnya tidak ada muntah sama sekali, kalaupun ada hanya muntah ringan satu-dua kali dalam sehari. Badan sangat lemas. Di minggu kedelapan, muntah mulai intens bahkan sampai sepuluh kali sehari. Hampir tidak ada makanan yang masuk, hanya Energen atau Cerelac yang bisa masuk.
Ngidam
Tidak ada ngidam sama sekali, hanya cari makanan yang bisa diterima di perut saja. Tidak mau makan pedas, buah yang asam, apalagi rujak.
Tidak suka makanan manis, kadang ingin makanan tertentu, suka makanan pedas, asam, rujak
Kembung
Tidak ada
Mual-muntah sampai bulan kelima, kembung berlanjut entah sampai kapan
Pergerakan janin
Sejak tiga bulan terasa gerakan lembut
Mulai empat bulan ada gerakan, dan nyendul-nyendul terasa sampai kulit perut, mules
Deteksi jenis kelamin
Enam bulan, 1600 gram, perempuan
Empat bulan, 450 gram, laki-laki
Bentuk perut saat hamil
Kecil
Usia lima bulan nampak seperti usia tujuh bulan saat hamil pertama
Usia tujuh bulan
32 minggu: pecah ketuban, harus dilahirkan segera
33 minggu: 2300 gram, posisi kepala sudah di bawah
Masuk usia 9 bulan
--
Perut bagian atas (di bawah payudara) nampak 'kosong', yang isi hanya nampak di bagian bawah saja. Kata mamah dan beberapa ibu tetangga, posisi bayi sudah 'turun'. Ternyata secara medis itu adalah tanda dari berkurangnya produksi ketuban.
HPL
Mid Februari 2014
Sudah lewat HPL. Tadinya mau langsung periksa, tapi dapat nomor 24, pasti malam banget. HPL+1 periksa: tensi 170/110, produksi ketuban berkurang. Langsung panik. Persiapan dulu ke rumah, baru siangnya balik ke klinik.
Melahirkan
Usia 32w: Senin pagi periksa ke klinik, air ketuban sudah sangat berkurang karena pecah duluan, posisi sungsang, kepala dan kaki di atas, pantat di bawah. Harus dirawat, diberi suntikan pematang paru, antibiotik dan induksi. Jam 19 mulai mulas sedikit, pembukaan 3 jam 00, mulas makin intens. Sakit banget seperti mau mens, tapi sangat intens terus-menerus di perut bagian bawah. Akhirnya lahir dengan selamat jam 9 dengan berat 2100 gram dan panjang 40 cm.
Jam 13.30 masuk klinik, tensi masih 170/100, diberi obat oral penurun tekanan darah, dan obat yang disuntik via infusan, terasa panas sampai ke cuping hidung dan ujung telinga, ada tes urine juga. Jam 19 mulai terasa mulas, masih pembukaan 1 sampai jam 1 pagi, mulas makin intens terasa sangat sakit di perut ke arah bokong, seperti ingin BAB. Jam 3 mulai pembukaan 3, sampai akhirnya seperti ingin BAB jam 6.30, lahir dengan divakum. Beratnya 2300 gram, panjang 47 cm.


Rabu, 25 Juli 2018

Lahir Prematur karena Ketuban Pecah Duluan

Jumat, 27Des13, habis magrib
Ada yang basah-basah di celana, belum curiga apa-apa.

Sabtu, 28Des13, dini hari.
Terbangun karena 'ngompol' banyak banget, sampe harus pakai pembalut. Cairannya putih kental seperti lendir, tidak amis.
3 klinik DSOG dekat rumah tutup, liburan akhir tahun, tidak ke RSUD karena terkenal dengan pelayanan buruk.
Pergi ke bidan senior, cuma dikasih amoxicilin dan disuruh bed rest di rumah, tanpa mewanti-wanti bahaya pecah ketuban dini (PKD) => sejak saat itu, saya benci dengan bidan tersebut.

Minggu, 29Des13
Masih bed rest di rumah, air ketuban masih keluar.

Senin, 30Des13, pagi.
Klinik DSOG yang jutek buka. Daftar via telepon, tapi begitu datang langsung bilang ke tempat pendaftaran bahwa ketuban sudah pecah. Tak lama kemudian, dipanggil ke ruang periksa.
Dokter yang biasanya super jutek, berubah lembut dan berhati-hati dalam bicara. Katanya, ada 3 hal:
1. PKD bisa menyebabkan infeksi => akan diberi antibiotik
2. Usia 30w, paru-paru bayi blm berkembang dg baik => akan diberi obat untuk "mematangkan" paru-paru bayi, dirawat 2 hari.
3. Bayi sungsang, posisi kepala di atas, pantat di bawah, kaki selunjur ke atas, posisi badan miring kanan => masih bisa diakali supaya lahir normal.
Jam 14, belum ada mulas, diinfus, disuntik.
Jam 19, diberi obat yang dimasukkan ke vagina. Ada mulas sesekali, belum ada pembukaan.

Selasa, 31Des13, jam 00
Mulas makin jadi, baru pembukaan 2.
Jerit-jerit, teriak-teriak, nangis, marah, menahan sakit seperti mulas saat mens tapi intens banget, tiap menit rasanya.
Jam 6, pembukaan 6.
Jam 9, kata dokter siap-siap tenaganya. Kalau sampai jam 10 masih belum keluar, harus caesar.
Dengan sekuat tenaga, akhirnya tangis nyaring Baby Oryza terdengar. Langsung ditaruh di dada, sementara dokter dan tim membereskan lain-lain.
Alhamdulillah... normal dan sehat, cantik banget.
Dengan panjang 40 cm dan berat 2100 gr, Oryza harus masuk inkubator, bahkan diadzani di situ.
Oryza sudah bisa nenen pertama :)

Selasa, 24 Juli 2018

Journey to Conceive in 2013

Beberapa tahun yang lalu, ada seorang teman yang sudah menikah selama lima tahun dan akhirnya sang istri hamil, tapi tidak mau memberi tahu mereka sudah berobat di mana atau bagaimana. Jujur, saya sakit hati. Oleh karena itu, saya ingin berbagi pengalaman kepada teman-teman yang sedang berjuang agar bisa hamil. Tidak ada sedikitpun maksud untuk pamer.

Sebelum 2013
Pernah berobat rutin ke dokter kandungan di sebuah RSIA ternama selama kurang lebih 1 tahun, berhenti karena kepentok biaya.Ada tetangga yang menganjurkan minum jus wortel (diekstraksi pakai juicer, bukan blender). Saya minum jusnya tiap hari terbuat dari 1 kg wortel.

Efeknya:
Kulit dan mata lebih terang. Tetapi ketika harganyamenyentuh Rp 12 ribu/kg, jusnya tiap 3 hari sekali sajadalam rangka penghematan.

Awal 2013
Ke Pengobatan alternatif Bapak Za'far di Cempaka Putih (belakang kampus Yasri), membeli 1 paket obat untuk suami istri, mengambil paket yang termurah seharga Rp 6 juta.

Terdiri dari:
Untuk istri 
• 2 toples pil, diminum 3x10 pil sehari selama tidak mens
• 1 kantong biji alkojah (baunya mirip biji kedelai hitam) direbus sebanyak 1 tangkup tangan dengan air 7 gelas, 3xsehari, ampas tidak boleh dipakai lagi

Untuk suami
• 2 amplop pil diminum 4 pil tiap dua hari
• 1 toples madu diminum 1 sendok makan setiap pagi
• Dianjurkan ditambah dengan Surbex-T, Theragran M dan Natur-E3

Tambahan
• Minyak biji bunga matahari imported from Oman, untuk menumis
• Makanan dilarang: gorengan, jeroan, sea food, lele, makanan yang dibakar (contoh: sate), daging hewan kaki empat, santan, baso, mie ayam, makanan mengandung penguat rasa (MSG), perasa, pewarna, pengawet, cabe keriting/rawit, krupuk, es krim, makanan/minuman dingin, minuman bersoda, minuman energi, rokok, kopi, susu kental manis
• Makanan dianjurkan: Minyak kelapa diganti dengan minyak biji bunga matahari, minyak jagung atau minyak wijen. Gula pasir diganti dengan gula batu / gula aren. Makanan direbus/tumis, tidak digoreng. Sayuran hijau dan merah, daging ayam kampung, ikan tawar (kecuali lele), cabe tanjung (besar), paprika, cabe gendot, lada, beras merah, susu murni, susu bubuk, kecap
• Suami minum 3 siung bawang putihtiap pagi

Efeknya: badan terasa segar, tidak terasa saki-sakit badan pada saat mens.

Hasil setelah obat habis:
Kecewa karena belum hamil, padahal di iklan tv didengungkan bahwa sebelum obat habis bahkan banyak yang berhasil hamil (mungkin ambil paket obat yang paling mahal).

April 2013
Setelah obat dari Pak Za'far habis, lanjut dengan:
1. Pada saat mens, minum jamu kunyit gede dan kunyit putih untuk membersihkan darah mens dan kalau ada infeksi/kuman pada organ reproduksi
2. Setelah mens, tiap hari minum Jamu Bibit Nyonya Meneer 3x10 pil(di apotek harga Rp 14-15 ribu isi 100), 1 kapsul kayu manis (beli bubuk kayu manis via online) dan 1 dan 1 kapsul DHEA (hampir Rp. 200 ribu / botol isi 30)
3. Untuk suami, minum Habatussauda 3x2 kapsul (di apotek harga Rp. 30 ribu isi 210)

Juni 2013
Darah mens tidak seperti biasanya, mengalir seperti air seni namun berwarna pink.

Juli 2013
Mual, muntah, kram perut, tidak minum jamu bibit dan kayu manis. Sudah ke dokter umum dan diberi obat tapi masih tidak sembuh, malah makin parah. Makanan dan obat keluar lagi, terutama kalau cium bau masakan.
Akhirnya ke dokter penyakit dalam yang punya alat USG, EKG dan lab. Di USG terlihat sangat banyak gas dilambung, ginjal terganggu, dan....! Ada kantung hamil dan titik janinterlihat di sana. Alhamdulillah... dokter memperkirakan usianya sudah lebih dari 4 minggu. Entah obat dari Pak Za'far or Jamu Bibit dkk yang menjadikan kehamilan ini. Yang pasti kami bersyukur dan ingin berbagi pengalaman bahagia ini dengan teman-teman.
Semoga bermanfaat.
Kami menyakini segala upaya ini hanya 1% dari Kebaikan Sang AR RAHMAN.

Rabbi Hablana Min Ladunka dzurriyatan Toyyibatan innaka sami'ut du'a

Cerita Oryza TK

Jelang tahun ajaran baru, saya mendaftarkan Ory ke TK.

Berdasarkan konsultasi dg Bu Eliz (Bu RW pemilik TK Permata), Ory dimasukkan ke kelas A karena usianya baru empat setengah tahun, sementara Intan dan Naila yang sudah menginjak lima tahun masuk kelas B. Sedangkan Ojan yang sebulan lebih tua daripada Ory, ibunya minta spesial ke Bu Eliz agar di kelas B karena teman akrabnya yaitu Neneng Zia yang seusia Intan dan Naila ada di kelas B, begitu pula Kinan yang masuk tahun ketiga di TK.

Day 1
Very exhausted.
Hanya perkenalan, datang jam sembilan, jam sepuluh sudah pulang.

Day 2
Masih excited, sebelum jam delapan sudah sampai di sekolah. Pulang jam sebelas, trus komen, "Kemarin cuma sebentar, sekarang koq lama."

Day 3
Obrolan after school
Ory: Ini hari apa?
Me: Rabu
Ory: (singing) Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu Minggu, itu nama-nama hari... Masih lama ya?
Me: Emang Ory nunggu hari apa?
Ory: Minggu
Me: Mau ngapain?
Ory: Mau maiiin terus, gak ke sekolah
Me: #tepokjidat

Day 4
Tegar yang sudah janjian akan bareng di kelas A malah diarahkan Bu Eliz ke kelas B karena akan masuk lima tahun Agustus yang akan datang.

After school
Me: Seru gak sekolah hari ini?
Ory: Seru kalau di kelas sih. Nyanyi, main puzzle, mewarnai, menempel...
Me: Emang kalau pas istirahat gak seru?
Ory: Rebutan mainannya

Ya begitulah... TK ini siswanya sekitar 70 orang, mainan di playground cuma 3.

Day 5 
Selama 4 hari di kelas A, tiap hari ditanya apakah di kelas itu seru. Jawabnya, "Seru. Tapi gak ada teman."

Ayah Ory menyuruh minta ke Bu Eliz untuk memindahkan Ory ke kelas B, bareng teman-temannya. Alhamdulillah, Bu Eliz langsung mengijinkan.

Week 2 day 1 - Mogok
Semalam tidur agak larut, bangun jam lima tiga puluh, masih ngantuk. Mau makan, mandi, pakai baju sekolah lengkap, tapi memohon, "Ory gak mau sekolah."

Bahkan dibujuk jajan pun, "Mau jajan tapi tetap gak mau sekolah."

Ayah Ory agak marah, tapi saya sadar bahwa anak seusia Ory tidak boleh dipaksa sekolah, takutnya nanti malah trauma dan mogok sekolah selamanya.

Selepas Dzuhur, saya mau cari info tentang kelas hari ini, tapi rumah Ibu Intan tertutup, mungkin sedang istirahat. Ory main dengan Tegar. Kata mamahnya, hari ini mulai les calistung dan ada PR.

Melihat buku les Tegar, beberapa lembar terisi, semangat Ory pun mulai terbakar lagi dan janji besok mau sekolah. Alhamdulillah.

W2 D2
Bangun, berangkat dan duduk bareng Intan dan Naila.

Di rumah, saya cek lembar kerja Ory di sekolah tadi. Tanpa bintang dan tampak mulus, soalnya adalah menghitung, melingkari jumlah terkecil, mencari jalan dan menempel.




Herannya, koq benar semua? Padahal Ory belum mengenal angka dengan baik, apalagi sampai menghitung dan membandingkan jumlah lebih besar - lebih kecil.

"Ini perintahnya apa, Nak?" tanya saya sambil menunjuk lembar pertama.

Jawabnya, "Disuruh melingkari (jawaban yang benar) sama Ibu Guru."

Saling bertatapan dengan Ayah Ory. Ini artinya Ory tidak mengerti apa yang dikerjakannya. Lalu Ayah Ory membuat soal yang sama.

Dan benar saja, Ory tidak bisa.

Kami bukan ingin memaksa Ory untuk bisa, hanya sedikit kecewa karena "target" gurunya adalah mendapatkan jawaban yang benar. Padahal semestinya adalah agar anak bisa mengerti perintah soalnya, dengan demikian anak bisa mengerjakannya dengan baik.