Tuesday, October 22, 2019

Berbagai Program Hamil yang Pernah Kami Lalui

Pengantin baru, rumah baru. Beberapa tetangga di sana ada sesama pengantin baru, ada yang sudah punya anak, ada juga yang sudah tiga tahun menikah tapi belum punya anak. 

Tahun-tahun pertama pernikahan, kami semangat sekali program hamil. 

1. Enam bulan setelah menikah, ke dokter kandungan di klinik depan gerbang perum. 
Saya hanya USG, dinyatakan alat reproduksi saya cukup baik, siklus mens teratur dua puluh delapan hari, tidak ada keluhan keputihan. Suami diberi pengantar untuk tes lab, hasilnya: sperma sehat dan banyak. Artinya: tidak perlu promil khusus, kecuali kalau sampai setahun pernikahan masih belum hamil. Dokter hanya memberi vitamin E dan termometer untuk mengukur suhu tubuh saat masa subur. 

Menurut keterangan dokter, berhubung siklus mens saya 28 hari maka masa subur berada di hari ke-11 sampai 17 setelah HPHT (hari pertama mens terakhir). 

Contoh:
Hari pertama mens tanggal 1.
Mulai tanggal 11 setiap pagi suhu tubuh harus diukur, bila lebih dari suhu normal biasa maka itulah masa subur, peluang untuk hamil lebih besar. 

Total biaya waktu itu masih di angka ratusan ribu rupiah. 

2. Tahun Kedua ke tukang pijat.
Ada teman di kampus yang katanya berhasil hamil setelah pijat di daerah Jatinegara. Sempat beberapa kali ke sana, pijatnya tidak sakit. Katanya, peranakan saya tidak ada masalah. 

Biaya hanya beberapa ratus ribu saja.

3. Tahun ketiga, promil di sebuah RSIA di Tangerang. 
Ditangani oleh DSOG perempuan yang super jutek, langsung periksa dalam. Mulut vagina dibuka pakai spekulum lalu dimasukkan alat, beuh sakit. 

Di layar nampak gambar yang tidak saya mengerti. Dokter menyuruh tes lab cairan vagina. Hasilnya ada jamur yang menyebabkan keputihan (padahal saya sama sekali tidak ada keluhan keputihan abnormal, seperti cairan putih berbau apalagi cairan berwarna). Menurut dokter, kadang memang kita gak ngeuh kalau ada masalah di vagina. 

Selain diberi obat dengan harga jutaan, saya juga disuruh suntik vitamin C dan "cuci vagina" (cuvag) setiap tiga hari sekali selama satu bulan. 

Suami disuruh ke dokter urologi. 

Total biaya jutaan rupiah, lupa berapa tepatnya. Promil tidak dilanjutkan karena kepentok biaya.

Pindah rumah

4. Setelah pindah rumah, mau promil lagi di klinik yang jaraknya sekitar dua belas kilometer dari rumah. 

Berhubung siklus mens saya tetap teratur dan hasil USG pun baik-baik saja, saya hanya diberi vitamin da obat untuk memicu ovulasi, serta rujukan untuk tes HSG di lab. 

HSG (Histerosalpingografi) adalah pemeriksaan dengan menggunakan sinar Rontgen (sinar-X) untuk melihat kondisi rahim dan daerah di sekitarnya. Biasanya dokter menyarankan pemeriksaan ini bila dicurigai ada masalah-masalah seperti penyumbatan tuba falopii, jaringan parut pada rahim, tumor/polip/kista, bentuk rahim tidak normal, dll. 

Di lab Pramita waktu itu, jadwal HSG hanya ada jam 17 saja. Harus makan dulu karena ada beberapa wanita yang mual setelahnya. 

Pertama rahim dimasuki cairan kontras lalu dirontgen. Hasilnya: normal, baik-baik saja. 

Total biaya sekitar satu juta. 

5. Pengobatan Bapak Za'far, nonton tayangannya di salah satu televisi swasta. Silakan klik di sini untuk melihat pengalaman saya.

Alhamdulillah

No comments:

Post a Comment

Galau saat Skincare Highend Ternyata "It Works"

Sebagai emak-emak yang cuma bisa menyisihkan uang dapur untuk beli skincare , tidak ada budget khusus, tidak pernah terpikir untuk icip ...